Ini Bukanlah Tempatku, Tapi?
Surabaya, 5 Maret 2014 saya mengunjungi sebuah tempat
untuk mengetahui gemerlapnya dunia kegelapan malam. Tidak terlalu malam saya
melakukan kunjungan ini, hanya berdurasi 1 jam saja yaitu pada pukul
20.00-21.00 WIB. Mungkin beberapa dari sahabat ivession mengetahui apa yang
saya maksud. Lokalisasi, yah itulah yang akan saya bahas kali ini. Sebuah
lokalilasi terbesar di asia tenggara ini berada di Surabaya tepatnya di kawasan
jarak, putat jaya, dan sekitarnya. Kawasan-kawasan tersebut yang sering kita
sebut sebagai gang dolly (GD).
Niat
awalnya saya adalah berkunjung ke perpustakaan Taman Baca Kawan Kami yang
beralamat di Putat Jaya 2A / 36 Surabaya. Ketika saya berkunjung di Taman Baca
Kawan Kami, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini sehingga bukan berkunjung
saja yang saya amati. Ada 3 hal yang ingin saya dapatkan ketika saya berkunjung
di Taman Baca Kawan Kami.
Pertama
saya ingin tahu tentang pendirian perpustakaan Taman Baca Kawan Kami yang
sempat masuk di media cetak terbesar di Surabaya. Kedua, saya ingin menggali
informasi kasus trafficking yang terjadi disana atau sekitarnya. Dan yang
ketiga saya ingin mengetahui kondisi terupdate di kawasan GD.
Dalam
pencarian alamat ini pun saya tidak langsung ketemu dengan lokasinya karena
memang saya jarang sekali menjelajahi kawasan GD. Berulang-ulang kali saya
bolak balik, saya tidak berani tanya pada sembarang orang karena menurut
informasi yang saya dapat ketika saya bertanya pada orang yang salah, saya
malah diarahkan dan dipaksa untuk mengikuti perintahnya mereka untuk masuk ke
tempat prostitusi.
Terus
menerus saya berusaha untuk mencarinya sendiri hingga bertemu dengan gapura
kecil yang bertuliskan “PUTAT JAYA IIA”. Nah, ini dia alamatnya, saya mencoba
untuk memasukinya. Perlahan demi perlahan saya melihat potret gemerlap yang tidak
pernah saya temui sebelumnya. Sebuah kampung yang mempunyai ruang kosong hanya
1,5 meter itu padat sekali dengan wanita-wanita yang berjejer di samping kanan
dan kiri saya.
Ketakutan
itu pun semakin menjadi saat saya disuruh untuk turun dari kendaraan bermotor
yang bernama peri tersebut. Ada orang yang memanggil saya pun, saya hiraukan
hingga akhirnya saya menemukan tempat beralamat Putat Jaya 2A/36 dan disitulah
tempat Taman Baca Kawan Kami berada.
Sesampainya
di Taman Baaca Kawan Kami pada pukul 20.00, saya pun tidak menyia-nyiakan waktu
yang hanya sebentar ini. Dengan durasi 1 jam hingga pukul 21.00, harapannya
semua informasi yang ingin saya dapatkan bisa tercapai. Datang disambut hangat
oleh adik-adik yang sedang mengikuti proses belajar mengajar. “Haai,, kakaak”
itulah kata-kata yang terlontar. “kak Ismail (Pengajar TBKK), kakak ini yang
akan ngajar di sini (Taman Baca Kawan Kami) ?”
Wah,
semangatnya boleh banget nih, mudah-mudahan mereka bisa berprestasi dalam hal
akademik maupun non akademik. Adik-adik TBKK ini belajar dengan dentuman musik
dangdut yang terdengar keras dari tetangga kanan dan kirinya sebagai tempat
prostitusi tersebut. Semangat belajar mereka bolehlah diadu dengan adik-adik
yang ada di perumahan. Gak ada bedanya. Mungkin jika mereka bicara pada saya akan ngomong "Ini bukanlah tempatku, tapi mau bagaimana lagi?"
Yang
terakhir ini, tentang kasus trafficking. Kemarin (5/3/2014) saya mendapati
cerita bahwa ada anak ABG yang rela menjual temannya sendiri dengan alasan
butuh uang, profesi, suka dan lain-lain. Ini realita, sebuah kenyataan yang
tidak dapat dipungkiri lagi keberadaannya. Selanjutnya, terserah kita, kita mau
diam saja atau ingin mengubah mereka atau menjauhkan mereka dari tempat
prostitusi tersebut.
Teringat
akan pesan pak totok dari diknas Surabaya saat rapat dengan mereka, beliau
mengatakan bahwa Permasalahan di Indonesia ini sudah tidak kompleks lagi,
tetapi sempurna. Memang benar ternyata, sangat sempurna sekali permasalahannya.
Tidak perlu jauh-jauh untuk menjadikan tempat rujukan, cukup datang ke surabaya
saja dan lihat sekelilingmu. Pasti dijumpai masalah yang begitu buanyaakk.
Ayo,
ingatkan diri saya dan kita semua untuk saling melengkapi dalam membenahi atau
menyelesaikan permasalahan. Surabaya dan Indonesia bukanlah tugasnya pemerintah
saja tetapi masyarakat pun juga mempunyai pekerjaan yang sama untuk menyelesaikan
permasalahan-permasalahan tersebut. Ketika dilakukan secara bersama-sama,
permasalahan itu akan lebih cepat selesai.

0 komentar: