Kakek istimewa dengan 84 Tahun kesetiaannya
Minggu, 16 Februari 2014 adalah hari yang sangat berarti nih buatku karena pada saat itu bisa bertemu seorang kakek dengan kesetiaannya pada istrinya. Pertemuan ini pada saat saya usai melaksanakan sholat dhuhur di Masjid Ummul Mu'minin (Barata Jaya).Saya pun telah selesai sholat bertepatan juga dengan jamaah sholat dhuhur yang telah meninggalkan masjid satu per satu. Setengah jam kemudian, ada seorang kakek yang tiba-tiba datang di masjid tersebut.
Kakek tersebut mendekati saya dengan jalannya yang tertatih-tatih tersebut. Saya juga tidak tau klo ada seorang kakek yang berjalan mendekati saya, tau-tau kakek itu sudah ada di depan saya sambil menyulurkan tangannya untuk mengajak salaman. Terjadilah percakapan singkat antara saya dan kakek tersebut :
Kakek itu mulai mengambil Al Qur'an kemudian dibacalah Al Qur'an tersebut sedangkan saya sedang nyamannya makan batagor yang baru saja dibeli saat penggalangan dana untuk kelud di CFD Taman Bungkul pada waktu pagi harinya. Makan yang lahap karena sedang lapar, akhirnya saya buang bungkusan batagor tersebut untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya.
Saya langsung menuju peri, tumpangan saya dan menstater motor tersebut. lanjooouuuttttt. tiit tiit tiit, kakek itu pun memanggilku lagi dengan tepukan tangannya dan terjadilah dialog lagi yang intinya saya mengajak kakek tersebut untuk pulang bareng. Ternyata apa yang saya tanyakan sama dengan keinginan kakek tersebut yaitu minta diantarkan pulang ke rumahnya.
Namun, sebelum berangkat kakek ini minta tolong kepada saya untuk mencari istrinya yang katanya istrinya tadi keluar bersama kakek namun sampai masjid tidak bersama-sama. keluar dari masjid, belok kiri, lurus, belok kanan dan belok kanan lagi terlihatlah rumah berwarna kuning yang merupakan rumah kakek dan nenek. "bentar mas, tunggu dulu disini mas. sabar ya mas, saya toktok pintun dulu", kata kakek itu. "iya kek, saya tunggu disini". diketok pintunya berulang kali namun pintu itu tidak dibuka atau masih dalam kondisi terkunci.
Kakek itu pun mendatangiku lagi dan berkata "sabar yo mas, kita ini dipertemukan oleh Allah. klo gak dipertemukan oleh Allah, kita gak bisa ngobrol2 gini, mas nya gak tau rumah mbah. sabar yo mas, ayo lanjut nyari istri mbah mas", "kakek ini sudah 84 tahun mas" (ngomong lagi untuk yang kedua kalinya, sambil menaiki peri untuk melanjutkan misi pencarian istri kakek). Ayo mbah, kita cari istrinya mbah lagi. lurus, belok kanan, belok kanan dan kembali lagi ke masjid (atas arahan kakek tersebut). Wah, tidak ada di masjid mbah. "iyo mas, gak ada di masjid. ayo cari lagi di tempat lain"
Dengan arahan kakek itu lagi, keluar masjid belok kiri, lurus belok kanan, belok kanan dan bertemu rumah kuning. "bentar mas, sabar yaa, sabar. nggak boleh emosi, nnti klo emosi malah jadi penyakit", kakek itu menasehatiku. "Nggeh mbah, mboten nopo-nopo. Kulo entosi ten mriki nggeh". Diketuk pintu rumahnya dengan keras sekali, namun tidak ada yang membukanya dan kakek ini mengajakku untuk nyari istrinya lagi.
Dalam pencarian ketiga ini, masih di tempat yg sama. lurus, belok kanan (bertemu dengan mobil yang menurunkan seorang nenek). Saya pun kaget saat kakek melihat nenek yang baru saja turun dari mobil karena kakek langsung turun dari peri dengan tergopoh-gopoh. Sebelum turun, kakek memukul pundak saya sambil berkata berhenti mas, berhenti mas. Ketika kakek turun dan menyapa nama nenek tersebut yang ada malah nenek itu tidak noleh dan merasa terganggu oleh panggilan kakek. Mengapa merasa terganggu ? karena nenek itu bukan istrinya dan beberapa menit kemudian kakek itu telah sadar bahwa dia bukan istrinya.
Kakek naik peri lagi dan melanjutkan perjalanannya dengan tempat yang sama dan tujuan sama yaitu masjid Ummul Mu'minin untuk ketiga kalinya. Hasil nihil, tidak ketemu sama istrinya dan belum tau keberadaan istrinya tersebut. Inilah yang dinamakan kesetiaan seorang kakek 84 tahun kepada istrinya, kakek mau bersusah payah untuk mencari tau keberadaan istrinya karena kekhawatirannya tersebut.
Saya dan kakek ini tidak saling mengenal dan tidak tau latar belakang masing-masing. saya yang sok akrab dengan kakek tersebut dan kakek yang membutuhkan bantuan saya untuk mencari istrinya yang sampai sekarang pun saya berfikir apakah nenek itu serumah dengan kakek atau tidak.
Kakek tersebut mendekati saya dengan jalannya yang tertatih-tatih tersebut. Saya juga tidak tau klo ada seorang kakek yang berjalan mendekati saya, tau-tau kakek itu sudah ada di depan saya sambil menyulurkan tangannya untuk mengajak salaman. Terjadilah percakapan singkat antara saya dan kakek tersebut :
- Kakek : "Assalamu'alaykum"
- Saya : "wa'alaykumussalam"
- Kakek : "Sudah sholat mas ?"
- Saya : "Alhamdulillah sampun mbah"
- Kakek : "ooh, nggeh nggeh nggeh. mbah iki umure 84 tahun" (ooh, yayaya. kakek ini umurnya 84 tahun)
- Saya : "oohh, tasik kiyat nggeh mbah damel mlampah-mlampah" (ooh, masih kuat ya kek buat jalan2)
- (Kakek jalan tertatih-tatih dengan menaiki tangga masjid, saya pun membantunya dengan cara memegang tangannya yang terlihat keriput itu)
Kakek itu mulai mengambil Al Qur'an kemudian dibacalah Al Qur'an tersebut sedangkan saya sedang nyamannya makan batagor yang baru saja dibeli saat penggalangan dana untuk kelud di CFD Taman Bungkul pada waktu pagi harinya. Makan yang lahap karena sedang lapar, akhirnya saya buang bungkusan batagor tersebut untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya.
Saya langsung menuju peri, tumpangan saya dan menstater motor tersebut. lanjooouuuttttt. tiit tiit tiit, kakek itu pun memanggilku lagi dengan tepukan tangannya dan terjadilah dialog lagi yang intinya saya mengajak kakek tersebut untuk pulang bareng. Ternyata apa yang saya tanyakan sama dengan keinginan kakek tersebut yaitu minta diantarkan pulang ke rumahnya.
Namun, sebelum berangkat kakek ini minta tolong kepada saya untuk mencari istrinya yang katanya istrinya tadi keluar bersama kakek namun sampai masjid tidak bersama-sama. keluar dari masjid, belok kiri, lurus, belok kanan dan belok kanan lagi terlihatlah rumah berwarna kuning yang merupakan rumah kakek dan nenek. "bentar mas, tunggu dulu disini mas. sabar ya mas, saya toktok pintun dulu", kata kakek itu. "iya kek, saya tunggu disini". diketok pintunya berulang kali namun pintu itu tidak dibuka atau masih dalam kondisi terkunci.
Kakek itu pun mendatangiku lagi dan berkata "sabar yo mas, kita ini dipertemukan oleh Allah. klo gak dipertemukan oleh Allah, kita gak bisa ngobrol2 gini, mas nya gak tau rumah mbah. sabar yo mas, ayo lanjut nyari istri mbah mas", "kakek ini sudah 84 tahun mas" (ngomong lagi untuk yang kedua kalinya, sambil menaiki peri untuk melanjutkan misi pencarian istri kakek). Ayo mbah, kita cari istrinya mbah lagi. lurus, belok kanan, belok kanan dan kembali lagi ke masjid (atas arahan kakek tersebut). Wah, tidak ada di masjid mbah. "iyo mas, gak ada di masjid. ayo cari lagi di tempat lain"
Dengan arahan kakek itu lagi, keluar masjid belok kiri, lurus belok kanan, belok kanan dan bertemu rumah kuning. "bentar mas, sabar yaa, sabar. nggak boleh emosi, nnti klo emosi malah jadi penyakit", kakek itu menasehatiku. "Nggeh mbah, mboten nopo-nopo. Kulo entosi ten mriki nggeh". Diketuk pintu rumahnya dengan keras sekali, namun tidak ada yang membukanya dan kakek ini mengajakku untuk nyari istrinya lagi.
Dalam pencarian ketiga ini, masih di tempat yg sama. lurus, belok kanan (bertemu dengan mobil yang menurunkan seorang nenek). Saya pun kaget saat kakek melihat nenek yang baru saja turun dari mobil karena kakek langsung turun dari peri dengan tergopoh-gopoh. Sebelum turun, kakek memukul pundak saya sambil berkata berhenti mas, berhenti mas. Ketika kakek turun dan menyapa nama nenek tersebut yang ada malah nenek itu tidak noleh dan merasa terganggu oleh panggilan kakek. Mengapa merasa terganggu ? karena nenek itu bukan istrinya dan beberapa menit kemudian kakek itu telah sadar bahwa dia bukan istrinya.
Kakek naik peri lagi dan melanjutkan perjalanannya dengan tempat yang sama dan tujuan sama yaitu masjid Ummul Mu'minin untuk ketiga kalinya. Hasil nihil, tidak ketemu sama istrinya dan belum tau keberadaan istrinya tersebut. Inilah yang dinamakan kesetiaan seorang kakek 84 tahun kepada istrinya, kakek mau bersusah payah untuk mencari tau keberadaan istrinya karena kekhawatirannya tersebut.
Saya dan kakek ini tidak saling mengenal dan tidak tau latar belakang masing-masing. saya yang sok akrab dengan kakek tersebut dan kakek yang membutuhkan bantuan saya untuk mencari istrinya yang sampai sekarang pun saya berfikir apakah nenek itu serumah dengan kakek atau tidak.
"Kesetiaan itu terlihat dari apa yang akan dilakukan oleh orang tersebut bukan dari perkataan-perkataan yang belum tentu kebenarannya"
0 komentar: