Minggu, 09 Februari 2014

Nostalgiaku dengan Dolanan Tradisional

Masih teringat jelas tentang dolanan tradisional yang selalu saya mainkan semenjak saya berusia dini sekitar umur 5 tahun. Bertempat di sidotopo wetan maupun pindah ke kenjeran, dolanan tradisional itu masih saja saya permainkan. Dolanan tradisional tak kalah serunya dengan Games modern yang ada di Mobile Phone maupun PC/laptop dan sejenisnya. Saat kita ngomongin dolanan tradisional di era modern sekarang ini, agak miris juga dengan sebuah realita bahwasannya dolanan tradisional mulai kalah dengan games modern.

Banyak sekali dolanan tradisional yang masih benar-benar saya ingat karena dolanan tersebut serunya bukan main. Salah satu dolanan menarik yang pernah saya mainkan adalah patel lele. Dalam permainan ini mengajarkan kita tentang taktik, skill memukul tongkat dan mengajak kita untuk berfikir bagaimana caranya supaya lawan tidak bisa menangkap tongkat kecil yang kita lempar/pukul.  Beberapa games yang pernah saya mainkan antara lain : benteng-bentengan, tekong-tekongan, buaya-buayaan, dolip-dolipan, boy-boy an, kotak pos, engkle salib, engkle gunung, engkle saruk dan lain-lain yang tak bisa disebutkan satu persatu.

Ingin rasanya bernostalgia untuk mengulang masa-masa dimana saya bisa bermain dolanan tradisional. Keinginan saya tersebut terkabul bersama rekan-rekan saya dari komunitas Inspiring Youth Educators atau IYE (komunitas sosial pendidikan yang ada di surabaya dan malang). Salah satu project dari IYE adalah Kampung Edukasi yang merupakan project rutinan yang dilaksanakan setiap hari sabtu sore. Tepatnya tanggal 8 februari 2014, IYE dengan Kampung Edukasinya mencoba untuk memperkenalkan dolanan tradisional.

Dolanan tradisional yang kita perkenalkan saat itu ada buanyak sekali dolanannya, namun seperti biasa karena kondisinya adalah adik-adik Kampung Edukasi adalah bukan tipe penurut, suka berontak dan lain-lain akhirnya kita yang mencoba untuk mengikuti maunya mereka. Untuk melempar dolanan tradisional, dolanan pertama yang dipermainkan adalah Benteng-bentengan. Tertariklah mereka untuk mengikuti dolanan tersebut, adik-adik Kampung Edukasi tinggal di sebuah perkampungan yang masih erat dengan sebuah kondisi yang dinamakan “tradisional”. Jadi, layaknya orang-orang yang tinggal di perkampungan tradisional bisa memahami dan mengerti dolanan tradisional macam benteng-bentengan.

Semakin banyak sekali yang berkumpul, akhirnya kakak-kakak IYE menambah wahana dolanan tradisional itu sendiri. Dolanan yang dipermainkan selanjutnya adalah bekel, kempyeng, engkle salib, engkle gunung, engkle saruk, patel lele dan tekong-tekongan. Dari dolanan tersebut, mayoritas adik-adik Kampung Edukasi tidak mengetahui cara bermainnya. Dolanan tradisional itu memang sudah sedikit dilupakan dengan adanya games modern yang ada di Mobile Phone maupun PC/laptop.

Penambahan dolanan tradisional itu dilakukan karena yang datang sudah berjumlah 22 anak ditambah dengan kakak-kakak IYE yang berjumlah 15 orang. Pelaksanaan dolanan tradisional itu tidak dilakukan secara bersama-sama. Menariknya adalah adik-adik Kampung Edukasi dan Kakak-kakak IYE pun merasakan kesenangan dan kebahagiaan saat mengikuti dolanannya tersebut. Hal ini yang membuktikan bahwa dolanan tradisional tidak kalah menarik dibanding games modern.

Dolanan tradisional itu mengasah kita untuk bermain sportif, berolahraga untuk kesehatan badan, menambah kemampuan bersosialisasi, melatih kejujuran orang dan masih banyak manfaat yang didapat saat kita bermain dolanan tradisional. Ingin rasanya untuk mengadakan kegiatan bernamakan Festival Dolanan Indonesia supaya dolanan tersebut tidak hilang ditelan zaman. Dalam list dolanan tradisional saya sudah ada sebanyak 33 permainan dan bisa dilaksanakan dalam sebuah event di satu hari. Bakal keren tuh, mohon doanya dari para ivession ya supaya Festival Dolanan Indonesia bisa terlaksana di masa mendatang.

0 komentar: