Nostalgiaku dengan Dolanan Tradisional
Masih teringat jelas tentang dolanan tradisional yang
selalu saya mainkan semenjak saya berusia dini sekitar umur 5 tahun. Bertempat
di sidotopo wetan maupun pindah ke kenjeran, dolanan tradisional itu masih saja
saya permainkan. Dolanan tradisional tak kalah serunya dengan Games modern yang
ada di Mobile Phone maupun PC/laptop dan sejenisnya. Saat kita ngomongin dolanan
tradisional di era modern sekarang ini, agak miris juga dengan sebuah realita
bahwasannya dolanan tradisional mulai kalah dengan games modern.
Banyak
sekali dolanan tradisional yang masih benar-benar saya ingat karena dolanan
tersebut serunya bukan main. Salah satu dolanan menarik yang pernah saya
mainkan adalah patel lele. Dalam permainan ini mengajarkan kita tentang taktik,
skill memukul tongkat dan mengajak kita untuk berfikir bagaimana caranya supaya
lawan tidak bisa menangkap tongkat kecil yang kita lempar/pukul. Beberapa games yang pernah saya mainkan antara
lain : benteng-bentengan, tekong-tekongan, buaya-buayaan, dolip-dolipan,
boy-boy an, kotak pos, engkle salib, engkle gunung, engkle saruk dan lain-lain
yang tak bisa disebutkan satu persatu.
Ingin
rasanya bernostalgia untuk mengulang masa-masa dimana saya bisa bermain dolanan
tradisional. Keinginan saya tersebut terkabul bersama rekan-rekan saya dari
komunitas Inspiring Youth Educators atau IYE (komunitas sosial pendidikan yang
ada di surabaya dan malang). Salah satu project dari IYE adalah Kampung Edukasi
yang merupakan project rutinan yang dilaksanakan setiap hari sabtu sore.
Tepatnya tanggal 8 februari 2014, IYE dengan Kampung Edukasinya mencoba untuk
memperkenalkan dolanan tradisional.
Dolanan
tradisional yang kita perkenalkan saat itu ada buanyak sekali dolanannya, namun
seperti biasa karena kondisinya adalah adik-adik Kampung Edukasi adalah bukan
tipe penurut, suka berontak dan lain-lain akhirnya kita yang mencoba untuk
mengikuti maunya mereka. Untuk melempar dolanan tradisional, dolanan pertama
yang dipermainkan adalah Benteng-bentengan. Tertariklah mereka untuk mengikuti
dolanan tersebut, adik-adik Kampung Edukasi tinggal di sebuah perkampungan yang
masih erat dengan sebuah kondisi yang dinamakan “tradisional”. Jadi, layaknya
orang-orang yang tinggal di perkampungan tradisional bisa memahami dan mengerti
dolanan tradisional macam benteng-bentengan.
Semakin
banyak sekali yang berkumpul, akhirnya kakak-kakak IYE menambah wahana dolanan
tradisional itu sendiri. Dolanan yang dipermainkan selanjutnya adalah bekel,
kempyeng, engkle salib, engkle gunung, engkle saruk, patel lele dan
tekong-tekongan. Dari dolanan tersebut, mayoritas adik-adik Kampung Edukasi
tidak mengetahui cara bermainnya. Dolanan tradisional itu memang sudah sedikit
dilupakan dengan adanya games modern yang ada di Mobile Phone maupun PC/laptop.
Penambahan
dolanan tradisional itu dilakukan karena yang datang sudah berjumlah 22 anak
ditambah dengan kakak-kakak IYE yang berjumlah 15 orang. Pelaksanaan dolanan
tradisional itu tidak dilakukan secara bersama-sama. Menariknya adalah
adik-adik Kampung Edukasi dan Kakak-kakak IYE pun merasakan kesenangan dan
kebahagiaan saat mengikuti dolanannya tersebut. Hal ini yang membuktikan bahwa
dolanan tradisional tidak kalah menarik dibanding games modern.
Dolanan tradisional itu mengasah kita untuk bermain sportif, berolahraga untuk kesehatan badan, menambah kemampuan bersosialisasi, melatih kejujuran orang dan masih banyak manfaat yang didapat saat kita bermain dolanan tradisional. Ingin rasanya untuk mengadakan kegiatan bernamakan Festival Dolanan Indonesia supaya dolanan tersebut tidak hilang ditelan zaman. Dalam list dolanan tradisional saya sudah ada sebanyak 33 permainan dan bisa dilaksanakan dalam sebuah event di satu hari. Bakal keren tuh, mohon doanya dari para ivession ya supaya Festival Dolanan Indonesia bisa terlaksana di masa mendatang.

0 komentar: